Inspired by Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

oleh Reggy Schiffer pada 30 Oktober 2010 jam 13:39

Dia bagai malaikat kecil bagi sudut hatiku. Merengkuh aku dari dimensi keberhentian yang berair mata dan berputus asa-an. Memberikan senyuman, canda, tawa, dan alasan untukku bangun lalu berjalan.

Lantas sejak saat itulah aku berjanji untuk tidak jatuh dalam dimensi itu lagi. Dan kali ini dia lah yang ada di balik janjiku. Setelah sekian lama Ibuku yang selalu menjadi alasanku.

Dia sungguh bagai malaikat bagi sudut hatiku. Memberikan ketenangan, kenyamanan, dan waktu tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini. Perasaan ajaib yang awalnya tidak ku mengerti dan akhirnya ku sadari setelah itu sudah cukup besar.

Mungkin pikiranku benar, tak layak aku mencintai malaikat kecil hatiku. Tak pantas. Maafkan aku. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak aku masih dengan asiknya mendengar semua ceritanya.

Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah… Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun… Daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggutkan   dari tangkai pohonnya. Biarlah… Biarlah aku cukup jadi orang yang menyaksikan dan mendoakan untuk setiap kebahagiaannya..